Dua Rekor MURI dipecahkan di Benteng Van der Wijck
Rekor yang dicatat Museum Rekor Indonesia (Muri) itu adalah merias wajah terbanyak dan pembuatan lanting terbesar.
Kegiatan yang digelar Ikatan Kanca Lawas (IKL) Gombong kerja bareng dengan Martha Tilaar Group itu dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Linda Agum Gumelar dan Dr Martha Tilaar, pengusaha kenamaan dunia kelahiran Gombong tersebut.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Dra Hj Rustriningsih MSi juga hadir dalam acara yang disiarkan langsung Dahsyat-RCTI itu. Turut hadir Wakil Bupati Kebumen Rustriyanto SH serta para pejabat di lingkungan Pemkab Kebumen dan unsur Muspida setempat.
Rekor merias wajah terbanyak itu dikuti 11.562 peserta perempuan. Mereka gabungan dari empat kota, yakni Jakarta 3.106 orang, Surabaya 2.395 orang, Bandung 2.500 orang, dan Gombong Kebumen 3.562 orang. Jumlah peserta melebihi target yang hanya mencapai 10.000 orang saja.
Rekor lain yang dipecahkan, adalah pembuatan lanting terbesar dengan ukuran 50 cm x 100 cm. Makanan dari bahan singkong yang merupakan makanan khas dari kota Gombong itu dibuat oleh Paguyuban Perajin Lanting Khasanah Desa Lemahduwur, Kecamatan Kuwarasan, Kebumen.
Satu rekor lagi, pemakaian batik terbanyak tidak berhasil dipecahkan. “Pemakaian batik sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia, sehingga sudah menjadi hal biasa. Jadi tidak dicatat di Muri,” kata Wida, dari Muri yang mewakili Jaya Suprana yang berhalangan hadir.
Diawali dengan pentas kesenian tradisional asli daerah Karanggayam yang bernama Cepetan, ribuan orang yang menghadiri acara tersebut disuguhi berbagai penampilan dari artis. Pertama kali yang muncul Marsya Manopo sebagai pembawa acara. Selanjutnya ada Dimas yang tampil untuk promo album terbarunya. Artis ganteng itu menjadi buruan ibu-ibu dengan berebut untuk mengambil gambar dan mencium. Suasana pun sempat gaduh.
Sepanjang pintu masuk tempat penyelenggaraan acara, digelar berbagai produk unggulan Kebumen. Berbagai pameran kerajinan dan lukisan juga dipajang. Grup kentongan dari Walet Merah yang personelnya anak-anak ikut menyemarakkan acara. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak meninjau stan yang ada. Dia mengaku bangga atas penyelenggaraan kegiatan itu. “Ini kreatif dan inovatif,” ujarnya.
Sumber: Suara Merdeka
Kabar Balon Bupati dalam Pilkada Kebumen
Suasana politik menjelang Pilkada Kabupaten Kebumen semakin menghangat. Selain berebut dukungan untuk mengantisipasi bila harus maju melalui calon independen, para tokoh yang akan maju dalam pesta demokrasi yang akan digelar secara langsung tersebut juga sibuk mencari kendaraan partai.
Setelah H.Rustriyanto SH, adik kandung Wakil Gubernur Jateng Dra Hj Rustriningsih, M.Si dipastikan akan maju sebagai calon bupati Kebumen periode 2010 – 2015. Rustriyanto yang mengklaim telah mengantongi dukungan penuh dari seluruh PAC akan meneruskan tahta kakaknya yang sempat memimpin Kebumen selama 8 tahun. Rustriyanto yang kini menjabat wabup kebumen akan maju melalui pintu PDI Perjuangan. Maka Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sepertinya sudah tidak tersentuh calon lain yang akan maju sebagai bupati Kebumen.
Maka dari dua partai politik yang bisa langsung mengajukan calonnya sendiri, Partai Demokrat (PD), menjadi salah satu partai favorit yang menjadi buruan para calon. Meskipun belum lama ini, DPC Partai Demokrat Kabupaten Kebumen telah menggandeng Drs H Poniman Kasturo MM untuk melangkah menuju kursi orang nomor satu di Kota Beriman ini. Tetapi ada beberapa sumber, yang menyebutkan kalau Kiai HM Nashirudin Al Mansyur mulai melakukan pendekatan ke Demokrat. Bahkan pendekatan itu telah direspons DPP. Dan kabar terakhir, partai berlambang segitiga biru itu malah sudah meminang Nashirudin yang juga Bupati Kebumen tersebut.
Tentunya dengan kehadiran Nashirudin dengan kendaraan partai barunya itu dipastikan akan memecah peta politik di Partai Demokrat. Ada sinyalemen posisi Poniman tergeser untuk diusung dalam Pilkada yang tinggal menunggu waktu itu. Namun kalangan simpatisan serta kader partai berlambang segitiga biru itu masih menghendaki Poniman.
“Adalah menjadi keputusan partai untuk mengusung siapa yang akan maju dalam Pilkada yang tentunya akan kami patuhi. Tetapi untuk kalangan bawah masih menghendaki Poniman,” kata salah seorang sumber yang tidak mau disebutkan namanya.
Isi dari berbagai sumber.
Image dari perhimakui.blogspot.com
Stikes Gombong Wisuda 60 Mahasiswa Kebidanan

Gombong - Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Gombong, Selasa (6/10) mewisuda 60 mahasiswa Program Studi (Prodi) DIII Kebidanan. Acara di Hotel Candisari itu merupakan wisuda ke-15 Stikes atau pertama bagi Prodi DIII Kebidanan.
Ketua Stikes Muhammadiyah Gombong H Basirun MKes mengungkapkan, Prodi DIII Kebidanan terakreditasi B. Pada Tahun Akademik 2009/2010, dari total 1.335 mahasiswa, 372 di antaranya mahasiswa Prodi tersebut.
‘’Persentase kelulusan 70%, yakni dari 85 peserta ujian, 60 wisuda,’’ ungkapnya kepada Suara Merdeka di kampus Stikes, Jalan Raya Yos Sudarso 461 Gombong, Senin (5/10).
Dia pun menginformasikan, sejak 1 Juni 2009, kampus telah memfungsikan sistem manajemen mutu ISO 9001-2000 untuk semua unit. Hal itu untuk meningkatkan kualitas lulusan sesuai kebutuhan pengguna.
Untuk Jabodetabek misalnya, ada RS Prof Dr Cipto Mangunkusumo, RSPAD Gatot Subroto, RS Pondok Indah, RS Cikini, dan RS Harapan Bunda. Untuk Sumatera Selatan ada RS Muara Beliti Mujirawat, dan PT Askes Lampung, Begitu juga sejumlah rumah sakit dan puskemas di Kalimantan serta Nusa Tenggara Barat (NTB).
Alumnus Stikes Gombong juga tersebar di rumah sakit negeri/swasta di Jateng dan DIY, seperti RS Prof Dr Karyadi Semarang, RS Prof Dr Sardjito Yogyakarta, RSUD Wates, PKU Muhammadiyah Bantul, PT Sampoerna Wates Klinik, RS PKU Muhammadiyah Klaten, RS Prof Dr Soeroyo Magelang, RS Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto, RSUD Banyumas, RSUD Majenang, RS Gumilir, RSI Fatimah, RS Santa Maria, RSUD Saras Husada Purworejo, PKU Muhammadiyah Purworejo, dan RSUD Purbalingga.
Khusus di Kebumen, lulusan Stikes terserap antara lain di RSUD Kebumen, BP4 Kebumen, RS PKU Muhammadiyah Gombong, PKU Sruweng, PKU Petanahan, PKU Kutowinangun, RSU Purbowangi, RSU Purwogondo, RSi Siti Khodijah, RS Wijaya Kusuma, RS Palang Biru, RS Anak Selang, RSKIA 45, Klinik Assifa, Klinik As Zahra, Klinik Keluarga, PT Askes Kebumen, PT Sampoerna Kebumen Klinik, dan puskemas.
Sumber:
Isi : Harian Suara Merdeka (06 Oktober 2009)
Gambar: http://stikesmuhgombong.blogspot.com
Fenomena Tabung Gas 3 kilogram
“Saya mendengar bunyi ledakan thor, thor! Selanjut saya keluar rumah dan melihat api membubung tinggi, kisah Tuminah.
Sang tetangga yang biasa menggunakan tabung elpiji seberat 3 kilogram untuk memasak bakso itu tidak berada di rumah.
Dugaan sementara, penyebab kebakaran adalah meledaknya tabung gas elpiji,” kata Kapolsek.
Sekali lagi kita mendengar adanya kejadian meledaknya tabung gas 3 kilogram, yang menambah panjang rentetan kecelakan yang disebabkan karena pemakaian tabung gas 3 kilo tersebut. Seperti halnya kejadian meledaknya tabung kompor 3 kg di Jalan Wijayakusumah Rt 1/2 Grogol Petamburan, Daan Mogot, Jakarta Barat (22/11/2008) dan yang terjadi di Koja, Jakarta Utara, beberapa orang mengalami luka bakar serius dan beberapa kasus yang lain yang selain membawa korban luka dan korban jiwa serta korban harta benda.
Dari fakta-fakta tersebut diatas, tentunya sedikit banyak akan menimbulkan keraguan dan ketakutan dari warga untuk menggunakan kompor gas sesuai program pemerintahan dalam melakukan konversi dari minyak tanah ke gas LPG. Yang jadi pertanyaan adalah apakah penyebab kecelakaan dalam penggunaan tabung gas karena semata-mata karena "human error" atau ada penyebab teknis, misal kurang terjaminnya mutu dan standar dari tabung gas itu sendiri?
Menurut Ari H Soemarno, Dirut PT Pertamina,"Fenomena seringnya terjadi kecelakaan akibat tabung gas (3kg) dikarenakan konsumen tidak mengikuti aturan-aturan atau arahan bagaimana menggunakan tabung gas itu dengan baik, karena masyarakat masih dalam tahap melakukan pembelajaran.
Terlepas dari permasalahan diatas, dalam kenyataannya sekarang konversi itu sudah terlaksana. Tabung gas dan kompornya sudah dibagikan ke masyarakat, jadi bukan masanya lagi untuk saling mencari kesalahan. Sekarang yang lebih penting bagaimana secepatnya memberikan pembelajaran bagaimana menggunakan kompor/tabung gas dengan selamat, kalau tidak korban sia-sia dari penggunaan tabung gas ini akan terus bertambah.
Ini sangat penting karena, kebanyakan warga masyarakat masih awam dalam pemakaian kompor gas dan pengetahuan tentang karakteristik dari bahan mudah terbakar ini. Hal ini akan sangat beresiko terjadinya kecelakaan, jika tidak diberikan perhatian serius dari pihak-pihak terkait.
Hal tersebut menjadi "PR" bagi pemerintah untuk segera menyediakan pelatihan dan pembelajaran bagi masyarakat serta menjamin tersedianya tabung gas yang memenuhi standar keselamatan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Dan dari pihak masyarakat juga diharapkan kesadarannya untuk lebih aktif bertanya dan mencari informasi tentang prosedure keselamatan dalam pemakaian kompor/tabung gas tersebut.
(Di kutip dari berbagai sumber.)
